Sabtu, 11 April 2015

Faktor - Faktor yang mempengaruhi keutuhan NKRI dalam Hankam

Untuk mewujudkan hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi keutuhan NKRI diantarnya :
1.      Religius
2.      Ekonomi
3.      Historik
4.      Geografi
5.      Hankam
Namun kali ini saya ingin menjelaskan mengenai faktor Hankam

HANKAM

Dalam menghadapi ancaman, diperlukan persamaan persepsi dan kebutuhan akan pertahanan dan keamanan negara Masyarakat menjadi garda pertahanan terdepan yang dapat menjaga keamanan negara dari ancaman, oleh karena itu diperlukan kesadaran akan adanya ancaman yang dapat membuat berbagai pihak memiliki pola berfikir dan sikap untuk bersatu dan berusaha untuk melindungi tanah airnya secara bersama-sama. Pemerintah harus meningkatkan tingkat perekonomian agar porsi anggaran untuk pertahanan dapat dialokasikan lebih besar, mengingat rata-rata pengeluaran pertahanan Indonesia dalam kurun waktu 2000 – 2011 berada di bawah rata-rata dunia. Anggaran pertahanan yang optimal dan efisien dalam penggunaannya sangat penting untuk mewujudkan pertahanan nasional yang kuat. Kuantitas tentara perlu ditingkatkan sampai dengan tingkat yang ideal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dan luas wilayah. Porsi kuantitas tentara yang optimal harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan kesejahteraannya. Jika ketiga faktor tersebut berhasil dengan baik, maka pertahanan nasional akan semakin kuat dan dapat terpelihara.Untuk dapat membangun strategi dan kebijakan yang efisien, perlu diperhatikan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap pertahanan nasional. Berdasarkan penelitian LIPI (2007), faktor yang mempengaruhi pertahanan yaitu: (1) anggaran pertahanan; (2) jumlah penduduk suatu negara; (3) ancaman konvensional dan non konvensional; (4) anggaran pertahanan negara lain; (5) kemampuan keuangan pemerintah; (6) harga alutsista; dan (7) jumlah personil sistem pertahanan. Namun pada kali ini saya hanya akan menjelaskan faktor ancaman konvensional dan non konvensional, faktor kekuatan ekonomi dan faktor jumlah personil sistem pertahanan.

Faktor Ancaman Konvensional dan Non Konvensional

Ancaman merupakan segala bentuk gangguan langsung, tidak langsung, terlihat ataupun tidak terlihat terhadap kedaulatan; basis-basis vital nasional (ekonomi, militer, dan informasi); penduduk; teritorial, ataupun segala bentuk usaha serangan secara konvensional, inkonvensional, maupun asimetrik terhadap suatu bangsa dalam skala nasional (Widodo, 2003). Berikut ini merupakan tabel ancaman potensial yang menjadi sumber konflik.

Tabel 1. Ancaman Potensial Yang Menjadi Sumber Konflik


Hampir semua ancaman potensial yang terdapat pada tabel 1 telah terjadi di Indonesia, misalnya peredaran obat-obatan. Indonesia disebut sebagai Surga Narkoba Dunia karena jumlah pengguna narkoba di Indonesia sekitar 3,8 juta orang (Statistik BNN, 2011) atau sekitar 1,5 persen dari total jumlah penduduk. Ancaman lainnya berupa gerakan separatis seperti lepasnya Timor Leste dari Indonesia, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), upaya disintegrasi Papua, dan penguasaan Pulau Sipidan dan Ligitan oleh Malaysia.Koseptualisasi, operasionalisasi, dan kategori ancaman harus dapat dilihat secara holistik. Tujuannya agar negara dapat melihat dan memformulasikan secara komprehensif mengenai bentuk dan strategi pertahanan apa yang sesuai dalam upaya menghadapi ancaman. Adanya persamaan persepsi dan kebutuhan akan pertahanan dan keamanan negara menjadi lebih penting dari pada alutsista maupun personil pertahanan.Sejatinya masyarakat adalah garda pertahanan terdepan yang dapat menjaga keamanan negara. Kesadaran akan adanya ancaman konvensional dan non konvensional dapat menjadi stimuli terbesar yang dapat membuat berbagai pihak memiliki pola berfikir dan sikap untuk bersatu dan berusaha untuk melindungi tanah airnya secara bersama-sama. 

Faktor Kekuatan Ekonomi

Kekuatan ekonomi dalam tulisan ini diukur menggunakan pendekatan (proxy) anggaran pertahanan, Anggaran bersifat sangat penting karena akan menentukan kinerja sektor pertahanan. Sesuai dengan teori ekonomi, insentive system akan mempengaruhi performance. Namun hal tersebut sebenernya tidak akan sufficienttanpa asumsi adanya rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi.Selain itu, anggaran pertahanan menjadi penting untuk mewujudkan pertahanan nasional yang kuat, diperlukan prasyarat anggaran militer yang mencukupi. Namun, kemampuan pemerintah dalam menyediakan anggaran pertahanan memang sangat terbatas jika dihadapkan dengan kebutuhannya Efek negatifnya pembangunan pertahanan saat ini relatif belum dapat diperhatikan secara optimal sehingga kapabilitas pertahanan belum mampu untuk mencegah, mengantisipasi, dan mengatasi ancaman keamanan nasional.Anggaran pertahanan yang dikeluarkan tergantung pada kemampuan ekonomi masing-masing negara. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana posisi anggaran pertahanan Indonesia jika dibandingkan dengan seluruh negara di dunia perlu dilakukan standardisasi dengan menggunakan analisis Z-Score yang diolah dengan menggunakan SPSS17.

Tabel 2. Postur Anggaran Pertahanan Indonesia Terhadap 171 Negara Tahun 2000 – 2011



Berdasarkan hasil pengolahan data 171 negara, dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu sebelas tahun anggaran pertahanan Indonesia berada pada kisaran 0,20490 s.d 0,13482 standar deviasi di bawah rata-rata anggaran pertahanan negara lain di dunia. Jadi, anggaran pertahanan Indonesia memang masih sangat minim jika dibandingkan dengan negara lain di seluruh dunia.Pertanyaan yang mungkin timbul adalah negara mana saja yang memiliki anggaran militer yang besar? kemudian adakah keterkaitan antara anggaran militer yang besar dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki suatu negara?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan analisis penghitungan menggunakan variabel anggaran militer dan total populasi di dunia.

Tabel 3. Postur Anggaran Pertahanan Global Tahun 2011



Berdasarkan postur anggaran pertahanan global di atas, pada tahun 2011 hingga saat ini Amerika Serikat tetap merupakan “market of the last resort” untuk semua negara. Posisi Amerika Serikat sebagai negara dengan kekuatan militer nomor satu mendorong dirinya melaksanakan posisi unilateralisme (tindakan sepihak). Negara-negara yang tergabung dalam G7 juga menguasai 64% dari total anggaran pertahanan di dunia, fakta tersebut memperkuat argumen hasil penelitian Pradhan (2010). Pradhan (2010) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mempengaruhi anggaran pertahanan dan anggaran pertahanan bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.Perbedaan jumlah populasi dan kesenjangan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercermin dari pengeluaran untuk anggaran militer menyebabkan terjadinya disparitas atau kesenjangan antar negara. Negara anggota GNB, yang populasinya sekitar 28% memiliki anggaran pertahanan 23%. Sedangkan negara BRIC + Indonesia, yang populasinya mencapai 58% penduduk dunia, total anggaran pertahanannya hanya14% saja. Jelas terlihat bahwa negara dengan perekonomian tinggi (G7) sangat peduli dengan kekuatan militernya, hal ini tercermin dari anggaran pertahanan yang mereka miliki. 

Faktor Jumah Personil Sistem Pertahanan

Tabel 4. Rasio Personil Pertahanan per Total Populasi 2011 (Selected Country)



Berdasarkan data pada tabel 4, dapat diketahui bahwa skor rasio ARMY/POP hampir sama untuk tiap negara yang dijadikan observasi. Namun untuk skor rasio ARMY/REG, Italia dan Inggris memiliki skor rasio tertinggi karena kuantitas personil pertahanan mereka miliki hampir sama dengan luas wilayah negaranya.Dalam ekonomi, kuantitas SDM yang banyak diperlukan, akan tetapi produktivitas tenaga kerja juga merupakan salah satu aspek penting untuk diukur untuk menilai kinerja. Dalam militer salah satu aspek yang harus mendapat perhatian adalah kuantitas tentara, tanpa mengesampingkan kualitas tentara. Kualitas atau skilltentara harus ditingkatkan seiring dengan upaya peningkatan kesejahteraannya.Poin yang dapat dikaji dari tabel 4 yaitu ketersediaan personil pertahanan tidak perlu terlalu banyak, namun jumlahnya harus optimal dalam memenuhi kebutuhan, dengan memperhatikan periode peak dan off peak. Perlu kajian lebih lanjut mengenai berapa jumlah TNI yang ideal harus tersedia untuk tiap luas wilayah dan jumlah penduduk. Untuk membantu personil pertahanan, rakyat (bagian dari total populasi) harus dapat berperan aktif dalam menjaga pertahanan negara, terutama dalam menghadapi perang non-militer. 

Senin, 02 Maret 2015

Layak sakura telat bermekar
Kadang diri bosan menunggu
Entah apa yang siap dibakar
Tujuan diri ambigu

Hari demi hari lainnya lepas
Merasa diri iri
Sedang orang dilampias
Hingga egois hati

Lanjut bahan pembakar
Mencoba namun tak pasti
Sama lagi diri mengincar
Orang pantas disalahkan lagi

Oh akhir waktu menjawab
Semua bahan itu terbakar
Diri seorang belajar menjawab
Arti keangkuhan tak berakar

Namun apakah aku telat bermekar?
Apakah berguna?

Tidak ada waktu terhenti untuk pejuang
Tidak ada bahan yang tak guna fungsinya
Semua punya cara sendiri unjuk gigi
Apalagi bermekar disaat mereka telah selesai berjuang

Jika suatu hari terlihat sakura terakhir bermekar diantara lainnya
Percayalah dia adalah yang terindah
Terbaik karena telah mempersiapkan dirinya dengan gagah
Bahwa orang melihatnya sebagai penutup dari akhir juangnya

LUPA

Kau tahu kembali?
Jika kertas telah terbakar apakah dia "ada"
Atau sembunyi dalam wujud kini?
Atau berganti nama karena wujud berubah?

Seperti perasaanku kini
Semua mengingatku tapi sekarang?
Semua memandangku tapi sekarang?
Dulu kemana datang kemana tinggal

Dulu matahari dinanti setiap umat
Menyinari bumi memberi hangat
Di momen mereka ada senyuman
Didampingi orang berharga atau perhatian

Aku hanya melihat matahari
Tanpa sosok yang kukasihi atau dikasihi
Memang sakit namun lama terbiasa
Saking panjang hingga aku lupa

Sekarang, ya sekarang mereka ada
Kembali senyum memandang aku
Memberi perhatian, mengasihi dan merangkul dada
Namun aku lupa hingga tertutup masa lalu

Lupa bahagia
Lupa tersenyum
Lupa tertawa
Lupa bersyukur

Semua keadaan sekarang membuatku biasa
Lupa menutup segalanya
Namun hati tidak lupa
Hati dan pikiran tidak sama

Sekarang ataupun lalu memanglah beda
Tergantung kita respons yang mana
Baik maupun buruk selalu ada
Tergantung kita mengandalkan emosi jiwa

Aku tidak ingin menjadi kertas terbakar
Hanya menjadi sampah tidak berguna
Aku ingin menjadi lilin penerang
Agar bisa berguna hingga saatnya dia tidak ada

Rabu, 19 November 2014

Sesal Hati

Resonansi itu mendegup hati
Lama tak mengadu
Cinta tinggal di hati
Tengah di bawah randu

Rintik hujan menyapu rindu
Membawa diri terhipnotis lalu
Cinta itu semu
Namun diri tak sedebu abu

Ingkaran hati demi diam 
Namun termakan waktu
Cinta datang tak bilang
Getar hati belum siap

Sesal hanya hati tahu
Sadar diri kau tiada 
Terbangun dengan nyanyian rindu
Hanya cinta yang menada

Kala hujan tepis cahaya
Kau pergi tanpa kata
Menggenggam tangan kasih senja
Aku lihat senyum membara

Miris pikiran tiada arti
Kala sesal menanti diri
Apakah awan menanti bumi?
Bersentuh tanah awan tak ingin